Senin, 28 Desember 2009

Guru-Guru Kreatif dan Inovatif

Bikin Mudah Rumus dengan Ular Tangga

Guru-guru ini adalah pemenang lomba kreasi dan inovasi media pembelajaran tingkat nasional. Apa saja terobosan mereka?

SALAH seorang guru yang kreatif dan inovatif itu adalah Umi Auliya, yang sehari-harinya mengajar Matematika di SMP Daar El-Qolam, Banten. Dari tangannya, lahir sebuah metode pembelajaran yang membuat hafalan rumus-rumus matematika menjadi menyenangkan. Rumus-rumus itu dimasukkan dalam permainan bernama Sirkuit Matematika. Aturan mainnya dicomot dari permainan ular tangga. Karena itu, alat yang dibutuhkan untuk permainan ini ada tiga. Yakni, bidak, papan permainan, dan dadu.

Sirkuit Matematika dibuat untuk rumus menghitung bangun datar. Ada tujuh bangun datar. Yakni, layang-layang, persegi panjang, trapesium, segitiga, bujur sangkar, jajaran genjang, dan belah ketupat. Di papan permainan, tujuh bangun datar itu diletakkan sebagai kotak-kotak yang harus dilalui bidak.

Dadu permainan juga diubah. Enam sisi dadu diganti dengan enam rumus bangun datar. ''Rumus belah ketupat dan layang-layang jadi satu karena rumusnya sama,'' kata Umi yang pada 2008 lalu lulus dari Jurusan Pendidikan Matematika di Universitas Negeri Semarang (Unnes) itu.

Cara mainnya, seorang peserta harus melemparkan dadu sebelum memainkan bidaknya. Ketika dadu menunjukkan rumus bangun datar, peserta harus melangkahkan bidaknya menuju kotak terdekat yang memasang gambar bangun datar itu. Begitu seterusnya. ''Yang menang adalah peserta yang paling cepat sampai di kotak terakhir,'' kata istri Yasin Yusuf itu.

Untuk membuat permainan semakin seru, disediakan pula ''tangga'' dan ''ular''. Peserta yang kena ular harus turun ke kotak sebelumnya. Yang mendapat tangga bisa melakukan jalan pintas. ''Biar seru saja. Agar siswa terpacu untuk berkompetisi dengan teman-temannya,'' kata Umi yang dari inovasi Sirkuit Matematika itu memboyong juara satu Inovasi Media Pembelajaran Tingkat Nasional 2009 yang diadakan Depdiknas.

Perempuan 24 tahun itu mengatakan, permainan tersebut tak bisa berdiri sendiri. Sebelum memulai permainan, guru harus mampu menjelaskan konsep rumus bangun datar. Penjelasan konsep ini tidak main-main. Sebab, jangan sampai siswa hanya mengambil permainannya tanpa memahami konsepnya.

''Mereka harus tahu, mengapa rumus segitiga itu alas kali tinggi kali setengah. Mengapa juga persegi panjang itu hanya panjang kali lebar,'' imbuh wanita berjilbab asli Pemalang, Jateng itu.

Sirkuit Matematika, kata Umi, paling pas diterapkan pada anak-anak kelas tujuh (kelas 1) SMP. Sebab, saat itu siswa masih menjalani masa transisi dari sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP). ''Di SD, siswa sebenarnya juga sudah dikenalkan dengan bangun datar. Tapi, di SMP rumus-rumusnya lebih banyak. Jadi, kita membantu mereka dengan permainan ini,'' katanya.

Menurut Umi, permainan ini bisa diterapkan di mata pelajaran lain. Misalnya, bahasa Inggris. Permainan ini bisa dilakukan untuk membuat perbendaharaaan kosa kata mereka semakin banyak. Enam sisi permukaan dadu bisa dituliskan kata dalam bahasa Indonesia. Kemudian, kotak-kotak di papan permainan dituliskan kata dalam bahasa Inggris. ''Kata yang ditunjukkan dadu, harus dicarikan kata dalam bahasa Inggris di kotak papan permainan,'' katanya.

Sebelum Umi mengusung permainan Sirkuit Matematika itu, pelajaran matematika menjadi momok siswa di sekolahnya. Apalagi, pelajaran matematika juga membutuhkan hafalan rumus-rumus. Ini membuat beban siswa tambah berat. ''Matematika menjadi pelajaran yang kurang disukai. Tidak seperti bahasa Inggris,'' katanya.

Sebagai pondok modern, siswa SMP Daar El-Qolam memiliki banyak beban hafalan. Selain bahasa Inggris dan matematika, mereka harus menghafal pelajaran agama. Apalagi, pondok tersebut mewajibkan santri menguasai bahasa Inggris dan bahasa Arab. ''Kalau saya ikut membebani anak-anak dengan hafalan rumus-rumus matematika, kasihan mereka,'' tutur Umi.

Selain itu, banyaknya beban hafalan untuk siswa membuat pelajaran matematika jadi sedikit terpinggirkan. Sebab, begitu masuk pelajaran matematika, anak-anak sudah lemas. Energi mereka sudah diambil mata pelajaran lain.

Suatu ketika, Umi melihat aktivitas siswa ketika jam istirahat. Rupanya, mereka gandrung dengan semacam permainan halma. Permainan yang mengadu ketangkasan melangkah dengan bidak-bidak itu membuat mereka gembira bersaing dengan rekannya. ''Dari situ saya mikir, mengapa tidak saya bikin saja halma tapi ada unsur matematikanya,'' katanya.

Dibantu suami, Umi mulai menggarap Sirkuit Matematika. Papan permainan tak harus dibuat dari kayu. Cukup kertas yang dicetak dari printer. Urusan menggambar bangun datar itu pun dilakukan dengan software paling gampang, yakni Microsoft Word. ''Semuanya saya lakukan manual. Soalnya nggak bisa Photoshop sih,'' ujarnya.

Sambutan siswa pun luar biasa. Mereka kini semakin bersemangat mengikuti pelajaran matematika. Bahkan, tren nilai mereka pun terus menanjak. Kalau siswa SMP Daar El-Qolam ditanya, apa pelajaran yang paling disukai jawabannya kini dua: matematika dan bahasa Inggris. ''Sekarang, matematika jadi favorit anak-anak,'' kata Umi. (aga/nw)
Sumber jawapos.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar